Penulis : Wina Amelia Mahasiswa Uin Ar-raniry Banda Aceh
KSNNews.id|Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, manusia saat ini tinggal di dunia yang hampir tidak pernah sepi. Notifikasi berbunyi setiap detik, media sosial selalu menyajikan informasi terbaru, dan algoritma terus-menerus bekerja untuk menampilkan apa yang perlu kita lihat. Tanpa kita sadari, semua ini menjadikan kita bukan lagi aktor utama dalam kehidupan kita sendiri—melainkan hanya pengamat.
Di zaman digital, banyak orang lebih mengutamakan merekam momen ketimbang mengalami langsung. Perjalanan liburan menjadi sumber konten, makanan dipilih berdasarkan keindahan, dan rutinitas harian ditentukan oleh apa yang pantas untuk dibagikan, bukan apa yang sebenarnya diinginkan. Hidup seakan ditujukan untuk konsumsi masyarakat. Pada akhirnya, manusia terperangkap dalam arena yang tak pernah berhenti, sementara perannya semakin samar.
Fenomena ini membuat kita seakan menjalani kehidupan menurut norma luar, bukan berdasarkan kebutuhan dalam. Kita lebih fokus pada penampilan foto, bukannya kebahagiaan dari momen itu. Kita lebih terfokus pada tren dibandingkan memahami keinginan sendiri. Sebagai hasilnya, banyak individu menjalani kebiasaan tanpa kesadaran: bergerak, bekerja, berinteraksi—tetapi tidak benar-benar hadir.
Inilah yang dikenal sebagai “pemisahan kehidupan”:
hidup terus berjalan, namun kita tidak turut serta di dalamnya.
Kita menjadi pengamat yang tidak aktif dari keputusan-keputusan yang ditetapkan oleh teknologi, tren, dan tekanan masyarakat.
Ironisnya, dunia digital yang seharusnya mempermudah justru mengalihkan kontrol kehidupan dari manusia ke dalam sistem yang tak tampak. Algoritma memutuskan apa yang kita lihat, beli, baca, atau percayai. Semakin lama kita terjebak dalam arus ini tanpa menyadari, semakin kita kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan yang sejati berasal dari diri kita sendiri.
Sebenarnya, hidup tidak hanya soal “tampilan” atau “citra digital,” melainkan serangkaian pengalaman yang harus dilalui dengan kesadaran. Mengalami, memilih, dan mengendalikan adalah jenis keberadaan yang tidak dapat disubstitusi oleh layar.
Jika kita ingin kembali menjadi aktor utama, kita harus berhenti sejenak dan mempertanyakan:
Apakah keputusan yang saya buat benar-benar berasal dari diri saya, atau dari apayang ingin dunia lihat dari saya?Era digital tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi penonton. Ia dapat menjadi sarana yang memperkaya kehidupan—asal kita tetap mengendalikan. Sebab pada akhirnya, suatu kehidupan yang berarti adalah kehidupan yang dijalani, bukan sekadar disaksikan.

